-   Situs   Channel   Sorong   -
Home | Forum Diskusi | Buku Tamu | Gallery | News Archive | Chat Online | Contact Us
Link Situs
» Pemda Papua
» Pln-X Papua
» Fokus Papua
» Papua Pagina
» InfoPapua.Com
» Sorong Groups

» Web Design


Affiliate
Assisted by
EditPlus

Polling
Amrozi terpidana kasus pengeboman Bali. Percayakah anda dia adalah aktor utama dibalik tragedi Oktober lalu?
Ya, dia pelakunya
Tidak, ada aktor utamanya
Bisa ya, bisa tidak
Amrozi cuma korban!

News Headline


Latest Update

Team Situs
InfoSorong.Com
Sebagai pelaksana dilapangan dari Team InfoSorong


#Sorong Crew
#Sorong Crew sebagai pemrakarsa situs Channel Sorong ini..!?!


#ComentGaul
Situs #ComentGaul sebagai wadah berkreasi anak muda Papua.

Srg Pitas Com


» Selamat Datang di Channel Sorong!

Situs anak muda Sorong Papua yang sering kumpul di Server Dalnet.

Nantinya akan di sediakan berbagai macam fasilitas yang dapat dipergunakan oleh setiap orang dan tentunya familier dan menarik, tunggu saja tanggal mainnya.

Join us online at irc://liberty.dal.net/SoRonG
Server: liberty.dal.net
Channel: #SoRonG
Atau klik shortcut mIRC anda lalu join channel Sorong..!

Kami sangat berterima kasih apabila anda mengirimkan kritik serta saran yang membangun kepada kami melalui csorong(at)yahoo.com.

Viva OilCity.

Hot News PC Berprosesor Pentium 4 Dengan Kecepatan 3,06GHz, Tidak Murah..!

Dengan adanya prosesor baru milik Intel, Pentium 4 dengan kecepatan 3,06 GHz dan berteknologi hyperthreading (HT), para vendor PC berlomba mengumumkan produk terbarunya yang juga dilengkapi teknologi teknologi HT. Sayang, harganya tidak murah. Demikian diberitakan PC World, Jumat (16/11/2002).

Tengok saja, untuk konsumen, Dell Computer menawarkan Dimension 8250 seharga US$ 2.999. PC desktop ini memiliki spesifikasi prosesor Pentium 4 3,06GHz, hard drive 200GB, RDRAM 512MB, dilengkapi kartu grafis Radeon 9700 Pro dari Ati, drive DVD+RW, dan monitor panel datar 18 inci.

Untuk para pebisnis, Dell punya OptiPlex seharga US.854. PC dengan DDR SDRAM 256MB ini tersedia dalam sample configuration GX260 atau SX260, dilengkapi hard drive 20GB dan sebuah displai layar datar 15 inci.

Sedangkan untuk workstation, Dell merilis Precision 350 dengan kapasitas hard drive 80GB, RDRAM 512MB, dilengkapi kartu grafis Fire GL E1 dari Ati, sebuah drive CD-RW dan displai panel datar 18 inci. Dell Computer mematok Precision 350 pada harga US99, garansi 3 tahun.

Vendor lainnya, Hewlett-Packard (HP), memiliki Pavilion yang memiliki spesifikasi memiliki DDR SDRAM 128MB, hard drive 40GB, dan drive CD-ROM seharga US$ 1.259.

Sedang untuk sistem midrange, HP menambahkan drive kombinasi DVD/CD-RW, kartu grafis GeForece 4 MX milik Nvidia, memori lebih besar, dan hard drive lebih besar seharga US$ 1.699.

Bagi pengguna high-end, HP menyediakan PC dengan konfigurasi DDR SDRAM 512MB, hard drive 120GB, kartu grafis GeForce 4 Ti, dan sebuah drive DVD+RW/+R dengan harga US$ 2.099. Walau tanpa monitor, HP menawarkan diskon US$ 150 untuk setiap harga tersebut.

MicronPC pun tidak mau ketinggalan. Selain menggunakan produk baru Intel, MicronPC pun menggunakan chip Athlon XP 2800+ dari AMD. Untuk PC dengan prosesor Pentium 4 3,06GHz memiliki spesifikasi DDR-333 SDRAM 256MB, hard drive 40GB, drive CD-RW dan monitor panel datar 15 inci. MicronPC ini memasang harga US$ 1.999 untuk Millenia 910i.

Untuk PC yang menggunakan prosesor AMD, MicronPC menggunakan Athlon XP 2800+ pada Millenia 910a dengan DDR-333 SDRAM 512MB, hard drive 80GB, drive CD-RW dan displai layar datar 15 inci.

(06:58 p.m. - Friday, November 15, 2002)


Hot News Kapolri: Pimpinan Pelaku Bom Bali adalah Imam Samudra

SorongNews - Kapolri Jenderal Pol Da'i Bachtiar menegaskan bahwa dari hasil pemeriksaan secara langsung terhadap Amrozi dan laporan dari Ketua Tim Investigasi Kasus Bom Bali Irjen Pol Made Mangku Pastika, dapat disimpulkan bahwa pimpinan pelaku peledakan bom Bali adalah Imam Samudra alias Kudama.

Setelah berbicara secara langsung dengan Amrozi selama sekitar 45 menit, Kapolri semakin yakin bahwa apa yang dilakukan penyidik Polri bukanlah rekayasa ataupun dengan cara-cara kekerasan, meskipun penyidikan ini belum selesai.

"Dari kelompok pelaku bom Bali ini baru satu orang yang ditangkap. Dan pimpinannya adalah Imam Samudra alias Kudama. Dalam waktu dekat, kami akan sebarkan foto Imam Samudra dan kami terus melakukan pengejaran, dan telah mencekal yang bersangkutan," kata Da'i Bachtiar.

Seusai mewawancarai Amrozi, Kapolri menilai, jiwa Amrozi normal, santai, tidak tertekan, dan ia menjalankan puasa.

Kapolri menanyakan kehidupan Amrozi setelah dewasa, dan perjalanannya ke Malaysia dan bertemu dengan banyak orang.

Pada tahun 1985, Amrozi bersama TKI lainnya pergi ke Malaysia mencari pekerjaan. Ia kerja sebagai kuli atau tukang batu di bangunan. Enam bulan kemudian kembali ke Indonesia. Amrozi mengaku masa mudanya sebagai anak yang nakal atau mbeling, hingga akhirnya menikah.

Pada tahun 1992, ia pergi ke Malaysia lagi dan mencari kakaknya, Mukhlas, yang sudah lama tidak ketemu. Ia kerja sebagai tukang montir. Setelah ketemu kakaknya, ia mendapat bimbingan dan tuntunan agama. Selain dari Mukhlas, Amrozi juga mendapat bimbingan dari Abu Bakar Ba'asyir. Dari situ timbul kesadaran terhadap pihak-pihak yang melakukan kezoliman terhadap orang-orang Islam.

Pada tahun 1994, Amrozi kembali ke Indonesia selama sebulan, lalu kembali ke Malaysia, dan ikut pengajian-pengajian. Guru yang dikaguminya ada tiga, yakni Mukhlas, Abu Bakar Ba'asyir, dan Ja'far Umar Thalib. Amrozi kemudian pulang ke Lamongan dan bekerja sesuai kemampuannya.

Pada tahun 2000, Amrozi diminta Imam Samudra alias Kudama untuk mencari bahan-bahan untuk membuat bom. Ia tahu tempat pembeliannya karena ia pernah mendapat pesanan dari seseorang untuk membuat bom untuk dikirim ke Ambon. Ia tahu betul penjual bahan itu, yang disebutnya sebagai Mister Silvester Tendean.

Di Bali, Amrozi bertemu Imam Samudra, Idris, Martin, yang sebelumnya pernah bertemu di Solo, di sebuah desa bernama Pabelan. Mereka bicara di sebuah warung, tapi lebih sering berbicara di dalam mobil. Saat itu, sasaran yang dibicarakan belum pasti, apakah di Bali, Jakarta, atau yang lainnya.

Setelah itu mereka sering berkomunikasi melalui SMS. Mereka bertemu lagi di Solo, dekat Pasar Klewer, dan bersembahyang di Masjid Agung Solo. Di masjid itulah mereka merencanakan membom Bali.

Amrozi akan diberi uang untuk membeli bahan dan mobil untuk membom. Beberapa hari kemudian, Idris datang memberikan uang secara bertahap untuk membeli mobil dan bahan bom. Uang itu ada yang rupiah, dolar AS, dolar Singapura, dan Ringgit, yang jumlah totalnya sekitar Rp47-50 juta.

Barang-barang itu ditangani Amrozi, dan menunggu perintah dari Kudama, kapan bahan-bahan itu akan dikirim.

Pada tanggal 6 Oktober 2002, mereka sampai di Bali. Amrozi bertemu dengan Idris, Kudama (Imam Samudra), Umar, dan seseorang yang belum pernah dikenalnya yang juga bernama Umar juga.

Sejak itu, Amrozi dibawa ke penginapan dan aktivitasnya hanya di penginapan itu saja. Mereka sempat pindah tempat penginapan sebanyak tiga kali.

Amrozi menanyakan, mana mobil dan bahan-bahan yang dikirimnya? Imam Samudra menjawab, itu bukan urusan kamu lagi.

Amrozi dan seorang temannya kemudian membeli sepeda motor.

Di hadapan Kapolri, Amrozi mengatakan, "Saya tidak pernah ngebom, tidak ke TKP, bagaimana bisa digambar sketsa?" katanya.

Kapolri menjelaskan bahwa gambar itu berasal dari keterangan penjual motor.

"Kalau begitu polisi pintar juga," ungkap Amrozi sambil tertawa.

Amrozi mengaku bahwa yang merakit bom adalah teman-temannya. Dan saat itu dia sempat melihat ada telpon Nokia 5110 yang sudah tersambung dengan kabel-kabel. Ketika hal itu ditanyakan pada temannya, teman-temannya mengatakan, "Anda tidak perlu tahu. Ini urusan kita."

Amrozi kemudian diajak putar-putar di Bali. Tapi, karena itu pertama kalinya di Bali, maka ia kurang tertarik.

Saat kembali ke Lamongan, dia mendengar peristiwa ledakan di Bali pada hari Minggu, 12 Oktober 2002, jam 07:00 WIB dari Radio Elshinta.

Amrozi senang bomnya telah meledak, tapi ia heran, kenapa dilakukan di pasar? Akhirnya Amrozi ditangkap polisi.

Ketika diberitahukan bahwa ia diancam hukuman mati, Amrozi menjawab akan meminta maaf pada Tuhan.

Ia juga berpesan agar saudara-saudaranya tidak melarikan diri, karena yang bersalah adalah Amrozi dan adiknya, Ali Imron.

Senjata-senjata dan amunisi yang ditemukan di Hutan Dadapan, Lamongan, Amrozi mengaku tidak tahu, karena yang tahu dan menyimpan di tempat itu adalah adiknya, Ali Imron. Senjata-senjata itu, kata Amrozi, digunakan dalam kerusuhan di Ambon.

(06:45 p.m. - Friday, November 15, 2002)



-:: eGroup Kota Sorong ::-
Powered by Westrian Intermedia


Extreme Statistik