- Situs Channel Sorong -
Home | Forum Diskusi | Buku Tamu | Direktori | News Archive | Chat Online | Contact Us
Link Situs
» Pemda Papua
» Pln-X Papua
» Fokus Papua
» Papua Pagina
» InfoPapua.Com
» ComentGaul.Com
» Sorong Groups

» Web Design


Kirim Pesan

Nama

URL atau Email

Pesan(smilies)


Polling
Percayakah Anda suatu saat nanti Indonesia akan masuk putaran final Piala Dunia?
Yakin, pasti bisa!
Tipis kemungkinannya
Nggak yakin...
Mustahil, deh!

News Headline


Latest Update

Team Situs
InfoSorong.Com
Sebagai pelaksana dilapangan dari Team InfoSorong


#Sorong Crew
#Sorong Crew sebagai pemrakarsa situs Channel Sorong ini..!?!


#ComentGaul
Situs #ComentGaul sebagai wadah berkreasi anak muda Papua.

Srg Pitas Com

» Selamat Datang di Channel Sorong!

Situs anak muda Sorong Papua yang sering kumpul di Server Dalnet.

Nantinya akan di sediakan berbagai macam fasilitas yang dapat dipergunakan oleh setiap orang dan tentunya familier dan menarik, tunggu saja tanggal mainnya.

Join us online at irc://liberty.dal.net/SoRonG
Server: liberty.dal.net
Channel: #SoRonG
Atau klik shortcut mIRC anda lalu join channel Sorong..!

Untuk sementara kami masih merancang situs tersebut sehingga anda dapat melihat temporary interface pada site ini mudah-mudahan tidak kalah dengan situs manapun yang pernah anda lihat sebelumnya.!?! Karya anak Papua akan dipentaskan di situs ini Sehingga anda dapat mencari data serta berita terbaru yang akan di update oleh Team kami, bahasa pemograman perl, cgi, serta php untuk membuat situs ini dikerjakan oleh anak Papua sendiri loh..!"

Kami sangat berterima kasih apabila anda mengirimkan kritik serta saran yang membangun kepada kami melalui csorong(at)yahoo.com.

Viva OilCity.

Hot News Indonesia - Australia Di Ambang Perang Cyber

Tindakan hacker Indonesia melakukan mass defacing terhadap puluhan situs internet milik Australia mendapat balasan dari hacker Australia. Selasa (5/11/2002), situs Satuatap.com dijebol seorang hacker dari Sydney.

Jika aksi balas-membalas antara hacker Indonesia dan Australia berlanjut, dua negara bertetangga ini bisa terlibat dalam sebuah perang cyber. Repotnya, perang cyber semacam ini bakal sulit dihentikan. Soalnya hacker biasa bekerja secara individual atau berkelompok tanpa komando dari siapa pun.

Situs Satuatap.com yang dimiliki oleh Graha Lumintu di Bekasi di-deface dengan gaya yang sama dengan defacing yang dilakukan oleh TarJO, hacker pelaku mass defacing situs-situs Australia.

Pada tampilan Satuatap.com yang di-deface, sang hacker meninggalkan sebuah pesan untuk TarJO. “..:: Hacked Too!!!!! ::..Say hello to ..:: TarJO ::.. from Sydney with Love too :() booom.. Selamat tinggal...,” tulisnya dalam format yang sama persis seperti format yang digunakan oleh TarJO.

Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat laporan adanya situs-situs Indonesia lainnya yang terkena defacing.

Namun tampaknya aksi saling serang masih bakal berlanjut. Menurut informasi yang diperoleh detikcom, beberapa kelompok hacker Indonesia sudah sepakat untuk menyerang situs-situs Australia.

Penyerangan cyber ini dilakukan sebagai bentuk kekesalan terhadap tindakan pemerintah Australia terhadap Warga Negara Indonesia (WNI) di negara tersebut. Seperti diberitakan sebelumnya, WNI di beberapa kota di Australia ditangkap dan diinterogasi atas tuduhan terlibat organisasi Jamaah Islamiyah.

Namun sebenarnya, kekesalan kebanyakan orang itu lebih dipicu oleh pernyataan-pernyataan pejabat tinggi Australia yang diajukan ke Indonesia. Pernyataan itu seringkali dianggap kelewat arogan. Bahkan belakangan ini media massa Indonesia yang dituduh sebagai biang yang mempertegang hubungan Indonesia-Australia.


Hacker Diimbau Hentikan Mass Defacing

Menurut perwakilan Global Internet Policy Initiative (GIPI) Untuk Indonesia, Maswigrantoro RS, tindakan mass defacing yang dilakukan oleh hacker Indonesia justru akan merugikan semua pihak. “Tindakan semacam ini juga tidak akan menyelesaikan masalah, namun justru menambah masalah baru,” tegasnya.

Menurut pria yang akrab dengan panggilan Maswig ini, dalam bidang Teknologi Informasi (TI), telah terjalin kerjasama yang sangat baik antara Indonesia dan Australia. “Selain itu, jika IT mulai dipakai dalam konflik politik, atau setidaknya perbedaan politik antara dua negara, yang muncul bukannya manfaat tetapi mudharat,” katanya.

”Oleh karena itu, saya mengimbau agar defacing kepada situs-situs Australia dihentikan saja,” lanjut Maswig lagi.

Imbauan Maswig ini diamini oleh pakar internet Onno W Purbo. “Kenapa nggak bikin event persahabatan, misalnya Indonesia-Australia Hacker Meeting. Semoga aja kalau sudah kenal secara fisik kan jadi lebih enak ngomong dan lain-lainnya,” ujar Onno yang saat ini tengah berada di San Francisco, Amerika Serikat.

Pemerintah Harus Tanggapi dengan Bijak

Walaupun tidak pada tempatnya, pakar internet ITB, Drs JPN Sumarno, mengharapkan pemerintah dapat menanggapi dengan bijaksana aksi mass defacing ini.

“Seharusnya protes disampaikan melalui saluran hubungan diplomatik antar negara. Akan tetapi, orang Indonesia itu tidak tahu semua dan bijak semua. Masih banyak orang muda dan pintar yang memiliki nasionalisme tinggi, sehingga fenomena demikian dapat terjadi,” ujarnya.

Marno yang saat ini juga menjabat sebagai caretaker Lembaga Internet Indonesia (LII), menilai tindakan mass defacing tersebut masih wajar. “Tinggal bagaimana pemerintah sebagai pengayom masyarakat mengarahkan potensi demikian itu,” kata Marno.

”Soal melanggar hukum, ya kalau ada hukumnya, akan disebut melanggar hukum. Tetapi bila belum ada hukumnya, hanya disebut melanggar etika saja. Belum ada sanksi-sanksi, apalagi dihukum penjara, saya kira. Paling ditegur oleh orang banyak. Eh, kamu kok begini begitu,” lanjurnya lagi.

Marno mengharapkan, orang muda yang nasionalis dan pintar seperti itu tidak perlu dikekang. “Kalau dikekang, malahan akan menjadi luntur potensinya. Padahal belum tentu ada potensi seperti itu lagi, atau kalaupun ada akan membutuhkan waktu lama,” tuturnya.

Dalam kesempatan lain, anggota presidium Asosiasi Warung Internet Indonesia (Awari), Salahuddien, menyatakan, tindakan mass defacing terjadi karena pemerintah sudah lagi tidak dipercaya dalam penyelesaian masalah semacam ini.

“Kalau pemerintah yang berwenang dianggap memble, selalu saja ada orang yang tergugah patriotismenya dan mengambil tindakan sendiri karena terusik rasa keadilannya. Lepas dari tindakannya tersebut benar atau salah, karena pada akhirnya selalu ada dua sisi mata uang,” ujar pria muda yang akrab dengan panggilan Didin ini.

Terjadi Beberapa Mass Defacing

Hingga berita ini diturunkan, belum terjadi aksi lanjutan mass defacing terhadap situs-situs Australia. Namun beberapa hacker mengabarkan telah melakukan tindakan mass defacing pada situs-situs non-Australia.

SysHack, misalnya, telah melakukan mass-defacing ke puluhan situs internet. Di antaranya situs linxhosting.org. Di situs ini tercantum deratan situs-situs lainnya yang dibobolnya.

Hacker lainnya dengan nick name “Bohyee” melakukan mass defacing terhadap beberapa situs Amerika Serikat. Bohyee menyebutkan, tindakan ini dilakukan sebagai aksi anti-Amerika dan anti-Yahudi yang dinilainya memutarbalikkan berbagai fakta untuk menyudutkan dan memojokkan umat Islam.

Situs-situs yang berhasil dibobol Bohyee, di antaranya allstateofcentralflorida.com, web-publishing.net, tommyedwardspublications.net, westebiz.com, jeics.com, ebiznw.com, alltheprofitsecrets.com, allgoto.com, hbp3.com, kmsle.com, workoninternet.com dan publishyournewsletters.com.

(02:19 a.m. - Friday, November 8, 2002)


Hot News Filsafat Pohon Pisang..!

Lima tahun lebih berumah tangga, lima tahun pula kami tinggal di rumah mertua. Sejak malam pertama pernikahan hingga si kecil berusia empat tahu, kami nyaris tak pernah memikirkan untuk beranjak dari PMI atau Pondok Mertua Indah.

Bisa dikatakan, selama kurun waktu itu kami juga tidak pernah merasakan kendala-kendala yang berarti dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Kalaupun ada konflik di antara kami paling sebatas persoalan yang biasa terjadi dalam kehidupan rumah tangga, misalnya saja masalah si kecil yang sakit dan kurang diperhatikan ibunya.

Meski demikian, sebagai suami yang ingin membahagiakan anak dan istri, bukan berarti aku tidak memiliki keinginan untuk hidup mandiri. Tapi rasanya tidak mudah meyakinkan mertua untuk mengikuti keinginanku itu. Hingga tak terasa waktu telah berlalu selama lima tahun.

Memang, selama hidup di rumah mertua, sedikit banyak kami bisa menyisihkan sedikit dari penghasilan yang kami peroleh untuk di tabung. Dan atas saran mertua, uang tabungan yang tidak seberapa itu kami gunakan untuk modal usaha yang lebih produktif, seperti membeli sawah garapan, beternak ayam atau usaha mengreditkan barang-barang keperluan sehari-hari yang dilakukan istri. Tapi, terus terang saja, hidup dalam kondisi seperti itu tidak selalu mengenakkan. Sebagai suami, rasa jenuh acapkali menghinggapi perasaanku.

Belakangan perasaan itu makin mengental, karena kondisiku yang bekerja di Jakarta mengharuskan pulang ke rumah dua minggu sekali. Konsekuensinya, bila tiba di rumah malam hari, aku harus membangunkan istri dengan mengetuk pintu depan terlebih dahulu. Hal ini aku anggap mengganggu waktu istirahat mertua. Apalagi bila istri sudah terlelap, mertualah yang membukakan pintu. Lama kelamaan akupun merasa risih.

Suatu ketika dalam perjalanan pulang dari Jakarta - di dalam bus yang aku naiki - di sebelahku duduk seorang pria berusia cukup tua. Seperti biasa, untuk mengusir kejenuhan selama dalam perjalanan, akupun membuka obrolan dengannya.

Setelah hampir seperempat jam, kami ngobrol ngalor ngidul, akhirnya percakapan kami mulai menjurus pada topik yang lebih serius.

"Jadi setiap dua minggu sekali, adik pulang ke Jawa?," tanya orang tua itu.

"Ya, mau gimana lagi Pak. Anak dan istriku masih di sana, di rumah mertua. Sementara pekerjaanku di Jakarta. Jadinya seperti ini, bolak-balik terus," jawabku.

"Melelahkan sekali ya?," tandas orang tua itu.

"Ya. Bukan hanya capek fisik, ongkos ke Jawa juga bikin capek," tegasku.

"Kalau dihitung-hitung pengeluaran tiap bulan besar juga ya? Buat ongkos pulang, makan sehari-hari, sewa kamar dan ninggalin biaya hidup di kampung," tandas orang tua itu lagi.

Aku hanya mengangguk.

"Kalau boleh Bapak menyarankan. Sebaiknya adik bawa saja anak istri ke Jakarta. Itu lebih baik daripada ketemu dua minggu sekali dan risikonya lebih besar. Apalagi hidup di Jakarta, godaannya banyak," saran pria yang mengaku bernama Pak Hadi itu sambil tersenyum.

"Tapi, rasanya saya belum berani mengajak anak istri tinggal bersama. Apalagi penghasilan saya tidak seberapa," jawabku.

"Justru itu. Kita seringkali dibayang-bayangi ketakutan yang sebenarnya hanya merupakan godaan agar kita tidak berkembang. Sebagai suami, kita harus berani mengambil risiko, betapapun beratnya resiko itu. Lihatlah kehidupan pohon pisang. Bila mereka tetap hidup dalam satu rumpun, pertumbuhannya sangat lambat. Tapi bila anak-anak pisang itu dipisahkan dari induknya, pertumbuhan mereka demikian cepat. Begitu juga kita.

Sekalipun hidup serba ada di rumah mertua, tapi kita masih bagian dari mereka. Lain halnya kalau kita mandiri. Kita memiliki kewenangan lebih besar dalam mengatur rumah tangga. Lagipula yang mengatur rezeki itu Tuhan, bukan kita. Jadi mengapa mesti takut?," jelas Pak Hadi panjang lebar.

Mendapat nasehat itu, sepertinya aku mendapat dorongan semangat yang selama ini nyaris tak pernah muncul dalam benakku. Alhamdulillah, berkat dorongan Pak Hadi , aku memberanikan diri untuk mandiri. Selanjutnya, sehari-hari aku bisa hidup berkumpul dengan anak dan istri.

Lebih bersyukur lagi, dari tabungan yang selama ini dikumpulkan istri, kini kamipun bisa membayar uang muka rumah di sebuah perumahan di pinggir Jakarta. Meski tidak terlalu besar, tapi terselip kebanggaan bahwa pada akhirnya akupun bisa mandiri. Aku berharap menjadi seperti anak-anak pisang yang setelah dipisahkan dari induknya bisa tumbuh dan berkembang dengan cepat.

(01:32 a.m. - Tuesday, October 29, 2002)



-:: eGroup Kota Sorong ::-
Powered by Srg Pitas Com


Extreme Statistik